Monthly Archives: Desember 2010

Kajian Endokrinologi Sindrome Klinefelter

Gynekomastia pada Sindrom Klinefelter Sindroma Klinefelter adalah kondisi kelainan genetik yang mempengaruhi laki-laki. Biasanya muncul karena kromosom X yang berlebihan pada tiap sel. Sindroma Klinefelter biasanya terjadi pada 1 dari 500 sampai 1000 laki-laki.

Sindroma klinefelter memberikan gambaran yang berbeda pada tiap orang. Karena kondisi ini mempengaruhi pertumbuhan testis, anak laki-laki dengan sindroma Klinefelter mempunyai kadar hormon testosteron yang lebih rendah, sehingga terjadi pertumbuhan otot yang lebih lambat, rambut di tubuh dan muka yang lebih sedikir, pembesaran payudara (gynekomastia). Pada beberapa kasus, dapat terjadi gangguan belajar dan gangguan interaksi sosial pada masa anak-anak dan dewasa.

Hormon testoteron adalah zat androgen utama, yang disintesis dalam testis, ovarium dan anak ginjal. Sintesis testosteron diregulasi oleh FSH dan LH dari hipofisis yang juga menstimulasi pertumbuhan testes dan pembentukan sel-sel sperma (spermatogenesis). Indikasi utama testosteron adalah sebagai terapi pengganti pada kekurangan/defisiensi androgen yaitu pada hipogonadisme dan hipopituitarisme.

Pasien penderita klinefelter juga dapat dimungkinkan memiliki kadar estradiol yang lebih tinggi dari pada laki-laki normal. Peningkatan estradiol dapat berasal dari sebuah perbesaran perubahan periferal testosteron menjadi estradiol. Ketidaknormalan kadar testosteron dan berkurangnya respon testosteron pada chorionic gonadotropin (hCG) merupakan sebuah refleksi dari disturbansi fungsi sel leydig dan sertoli. Read the rest of this entry

Iklan